Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2012

Haruskah Percaya dengan Hasil Survei?

Selama ini kita acapkali disuguhi berbagai macam hasil survei, misalnya, popularitas tokoh atau partai politik tertentu, kepuasan rakyat terhadap suatu lembaga negara dan kinerja pemerintahan saat ini, dan yang terbaru adalah hasil survei mengejutkan dari sebuah perguruan tinggi negeri di Jakarta: sekitar 76 persen warga Muslim Jakarta menginginkan hukum Islam ditegakkan (Republika, 21/02/2012). Pertanyaannya kemudian, apakah berbagai hasil survei yang selama ini disuguhkan kepada kita bisa dipercaya begitu saja sebagai suatu kebenaran, bukan kebetulan? Haruskah kita menelan bulat-bulat semua hasil survei itu, tanpa melakukan cross verification dan menerima begitu saja sebagai gambaran utuh tentang populasi? Mengapa survei dilakukan? Kita selalu memilki keterbatasan dalam memahami segala hal tentang populasi. Dalam konteks ilmu statistik (Statistika), segala hal ini disebut parameter, yakni karakteristik populasi yang─seringkali ─tidak diketahui secara pasti nilainya

Berharap JK 'Nyapres' Lagi

Pemilihan presiden (pilpres) memang masih lama, masih dua tahun lagi. Namun, berbagai move sejumlah partai politik terkait calon presiden yang bakal diusungnya di 2014 nanti kian terasa gaungnya. Dan, nampaknya yang paling jelas dan hampir pasti adalah Partai Golkar dengan Abu Rizal Bakrie (Ical) sebagai capresnya. Selain Ical, sejumlah nama lain juga kian santer terdengar bakal meremaikan bursa pilpres nanti walaupun sebagian dari mereka belum jelas bakal diusung oleh partai apa. Beberapa nama yang santer terdengar di berbagai media belakangan ini adalah, sebut saja, Prabowo Subianto (Gerindra), Mahfud MD, Jusuf Kalla, dan Dahlan Iskan. Mengenai bakal majunya JK dalam Pilpres 2014 nanti nampaknya kian kentara. Pasalnya, baru-baru ini, Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) telah bulat memutuskan untuk mendukung JK sebagai calon presiden (capres) pada Pilpres 2014 mendatang. DPW PPP Sulsel menilai, JK adalah toko

Dosen Idaman

Saya menulis ini tanpa pretensi apapun, hanya semata-mata karena kepedulian dan kecintaan pada sebuah kampus kecil di Otista itu, tempat saya berkuliah dulu. Dalam sebuah diskusi hingga larut malam beberapa waktu lalu, seorang kawan, yang sedang mempersiapkan diri menghadapi Ujian Akhir Semester (UAS), menyampaikan keluh kesahnya kepada saya. Keluh kesah yang menurut saya cukup gawat nan berbahaya karena telah membuatnya mati gaya dan kehilangan gairah ( passion ) dalam belajar. Dan, takutnya, fenomena mati gaya dan kehilangan gairah ini tidak hanya terjadi pada kawan yang sebetulnya cerdas dan memliki semangat belajar berapi-api itu, tetapi juga pada kawan-kawannya yang lain, dalam spektrum yang luas, apalagi masif. Dalam diskusi yang hanya ditemani segelas teh manis hangat dan beberapa lembar kertas coret-coretan—yang tak bisa dijadikan cemilan—itu, dia mengungkapkan kekecewaannya, mungkin lebih tepatnya kekesalannya, terhadap beberapa orang dosen yang menurutnya terlalu

Transjakarta ‘Si Jago Mogok’

Saya kira, tak perlu dilakukan semacam survei untuk memastikan bahwa tingkat kepuasan para pengguna Transjakarta sangat rendah. Dengan melihat pelayanan yang diberikan, mudah untuk ditebak bahwa paru pengguna Transjakarta tidak puas dengan pelayanan yang ada. Sebetulnya, peminat moda transportasi yang digagas Bang Yos ini cukup banyak. Terindikasi dari kerap membludaknya penumpang di sejumlah halte. Tidak jarang, para penumpang harus saling berebutan, dorong-dorongan, bahkan sikut-sikutan untuk sekedar masuk ke dalam bus. Sayangnya, tingginya peminat tidak diimbangi dengan pelayanan yang memuaskan. Sialnya, meskipun pelayanan yang diberikan kurang memuaskan, orang seperti saya  tidak punya banyak pilihan. Mau tidak mau, Transjakarta jadi tumpuan untuk perjalanan pergi dan pulang kantor. Pasalnya, tidak ada moda transportasi umum lain yang sedikit lebih layak dari Transjakarta. Suka mogok Menurut saya, untuk saat ini sedikitnya ada dua hal mendasar yang menyebabkan pe

Beda Rusia dan Indonesia Soal Kependudukan

Beberapa waktu lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin menghimbau warga negaranya untuk meningkatkan intensitas hubungan seks. Imbauan tersebut, yang sontak menuai ejekan dari rakyat Rusia ini, dimaksudkan untuk mendongkrak angka kelahiran negara bekas Uni Soviet itu yang kian mengkhawatirkan. Betapa tidak. Sebagai negara terluas di dunia, dewasa ini, Rusia ternyata mengalami kekurangan penduduk. Berdasar data yang ada, dalam 10 tahun terakhir, penduduk Rusia telah berkurang sebesar 2,5 juta orang. Dan, saat ini, penduduk Rusia hanya mencapai 145 juta orang, terlalu sedikit untuk sebuah negara yang secara geografis terluas di dunia. Walaupun menuai ejekan dari mana-mana, Putin ternyata tidak main-main dalam imbauannya. Bahkan, dia berjanji untuk memberikan sejumlah insentif kepada keluarga yang mau menambah anak lebih dari dua, seperti taman kanak-kanak (TK) gratis, perumahan murah, dan bonus sebesar £140 setiap bulannya bagi ibu yang memiliki anak ketiga. Dengan imbauannya

Mengapa Orang Miskin Lambat Berkurang?

Tantangan untuk mengentaskan kemiskinan nampaknya kian berat. Terindikasi dari laju penurunan jumlah penduduk miskin yang kian melambat. Nampaknya, pemerintah harus bekerja lebih giat dan lebih keras. Berdasarkan data yang didiseminasi Badan Pusat Statistik (BPS) awal Januari lalu (2/1), pada September 2011, jumlah penduduk miskin mencapai 29,89 juta orang atau sebesar 12,36 persen dari total penduduk Indonesia, turun sebeser 130 ribu orang atau 0,13 persen jika dibandingkan kondisi Maret 2011. Jumlah penduduk miskin kala itu mencapai 30,02 juta orang atau sebesar 12,49 persen dari total penduduk Indonesia. Tidak jauh berbeda dengan si miskin Patut diduga, 130 ribu orang penduduk miskin yang berubah status itu sebetulnya hanya beralih menjadi penduduk hampir miskin ( near poor ). Terindikasi dari pertambahan jumlah penduduk hampir miskin yang kini telah menembus angka 27,82 juta orang atau sekitar 11,5 persen dari total penduduk Indonesia (BPS, 2012). Jika dibandingkan

Hebatnya Pak Harto

Kemarin (9/2), melalui putusannya, Mahkamah Konstitusi (MK) mensahkan gelar pahlawan untuk Mantan Presiden Republik Indonesia Soeharto (Pak Harto). MK menolak permohonan mereka─ Aktivis 1998─yang mempersoalkan gelar pahlawan mantan presiden republik Indonesia yang kedua itu. Terlepas dari segala kekurangannya selama memimpin negeri ini, tak kurang selama 32 tahun lamanya, saya kira Pak Harto layak disebut sebagai pahlawan. Tanpa putusan MK, tanpa penetapan Undang-Undang pun, Pak Harto yang dulu dijuluki ‘Bapak Pembangunan’ itu sejatinya adalah pahlawan. Mengapa? Pak Harto─kroninya─mungkin korup, seorang otoriter dan tiran. Tetapi, tidak bisa dimungkiri,  dia memiliki andil yang tidak sedikit  bagi negeri ini dibanding kita. Bahkan, dibanding mereka yang mempersoalkan gelar kepahlawanannya itu. Betapa tidak. Saat muda, dia terjun di medan juang, memanggul senjata, bertempur bertaruh nyawa melawan Belanda dalam Perang Kemerdekaan. Bukankah itu pengorbanan yang tidak mudah dan

BPS: Tukang Sulap

Saya terpancing untuk menulis postingan ini saat membaca sebuah tulisan bertajuk     "Dua Juta Remaja Hilang di Tahun 2011: 'Sulap-sulapan' Ala BPS"   yang di-posting di Kompasiana   pada Rabu kemarin (1/2). Sebagai statistisi Badan Pusat Statistik (BPS), saya merasa perlu menanggapi isi postingan itu. Pasalnya,     menurut saya,  terdapat sejumlah kekeliruan  yang  cukup ‘berbahaya’. Saya katakan berbahaya karena dengan kekeliruan itu penulis dapat menggiring pembaca pada persepsi keliru: data-data (statistik) yang dilaporkan BPS sarat rekayasa dan tak dapat dipercaya. Ini terindikasi melalui sejumlah komentar pembaca postingan itu. Padahal sejatinya, dengan data BPS itulah publik dapat tercerahkan, serta semakin cerdas dan objektif dalam memberikan penilaian terhadap suatu hal, khususnya kinerja pemerintah. Bias interpretasi Sebetulnya, bukan kali ini saja data BPS dipersoalkan kesahihannya. Sebelum-sebelumnya, hal semacam ini juga sudah kerapkali terj