Langsung ke konten utama

Tiga Tipe Dosen Pembimbing


Penyusunan skrispsi merupakan tahapan yang harus dilalui oleh seorang mahasiswa Strata I atau Diploma IV untuk menyandang  gelar sarjana, yang kata orang merupakan salah satu tiket untuk menggapai masa depan cerah nan gemilang. 

Bagi sebagian besar mahasiswa, termasuk saya, penyusunan skripsi merupakan proses yang sangat melelahkan di akhir-akhir masa kuliah–jika benar-benar dikerjakan secara mandiri tentunyakarena hampir semua waktu dan tenaga tersedot untuk kerjaan yang satu ini. Berbagai penyakit, mulai dari kurang darah karena kurang tidur sampai dengan kurang uang yang membuat berat badan menurun drastis karena kurang makan, acapkali menghampiri di sela-sela perjuangan menyelesaikan skripsi.

Tidak jarang, banyak mahasiswa yang dibuat stress, nyaris gila, bahkan benar-benar jadi gila oleh urusan yang satu ini. Di STIS tempat saya kuliah dulu, hal seperti ini hampir kerap terjadi di setiap angkatan. Sekedar bocoran kawan, dulu, di kampus yang mahasiswanya hebat-hebat itu, saya pernah sekelas dengan seorang mahasiswa yang stress berat. Bahasa kasarnya gila karena gagal dalam penyusunan skripsi. Bagi adik-adik STIS yang sedang menyusun skripsi, saya doakan mudah-mudahan Anda jangan sampai seperti itu.

*****
Tidak bisa dimungkiri, dosen pembimbing memegang peranan yang sangat penting dalam proses penyusunan skripsi. Selesai tidaknya sebuah skripsi (tepat waktu atau tidak) seringkali sedikit banyak terkait dengan dosen pembimbing. Karena itu, salah satu hal terkait dosen pembimbing yang penting untuk diketahui oleh seorang mahasiswa yang sedang menyusun skripsi adalah tipe dari dosen pembimbing tersebut. Tipe yang saya maksud di sini bukanlah kepribadian dari dosen pembimbing. Meskipun, hal ini juga penting karena dosen pembimbing juga manusia yang punya perasaan. Hubungan emosional antara mahasiswa dan pembimbingnya adalah faktor yang juga penting dalam penyusunan skripsi. Karena itu, penting bagi seorang mahasiswa untuk mengetahui apa saja hal-hal yang disukai dan tidak disukai oleh dosen pembimbingnya.

Tipe dosen pembimbing yang saya maksudkan di sini adalah kualifikasinya sebagai seorang dosen pembimbing, baik terkait penguasaannya terhadap metodologi/teknik statistik yang digunakan maupun topik skrispsi yang sedang dikaji oleh mahasiswa. Berdasarkan pengalaman saya sewaktu kuliah, sedikitnya ada tiga tipe dosen pembimbing skripsi terkait kualifikasinya sebagai seorang pembimbing yang mengarahkan mahasiswa dalam proses penyusunan skrispsi. Ketiga tipe tersebut adalah sebagai berikut.

Tipe Pertama: Dosen Pembimbing Ideal
Mahasiswa yang mendapatkan dosen pembimbing seperti ini pastilah sangat beruntung. Pasalnya, di tempat saya kuliah dulu, tipe dosen pembimbing seperti ini sangat jarang dijumpai. Bahkan, boleh dibilang, sepertinya tidak ada. 

Dosen pembimbing ideal adalah dosen pembimbing yang tidak hanya menguasai topik atau permasalahan praktek yang sedang dikaji oleh Si Mahasiswa, tetapi juga menguasai teknik statistik yang digunakan. Dengan lain perkataan, dia memiliki kaulifikasi yang komplit sebagai seorang dosen pembimbing. Dosen pembimbing seperti ini dapat menjadi tempat bertanya yang baik karena dia bisa memberikan jawaban yang memuaskan atas pertanyaan-pertanyaan kita. Selain itu, dia juga selalu menjadi solusi atas kebuntuan-kebuntaun yang sedang kita hadapi.  

Tipe Kedua: Dosen Pembimbing Setengah Ideal
Tidak seperti dosen pembimbing tipe pertama yang sangat jarang dijumpai, bahkan boleh dibilang tidak ada, dosen pembimbing tipe kedua ini paling banyak atau umum dijumpai. Menurut saya, dosen pembimbing tipe ini terbagi menjadi dua. Pertama, dosen pembimbing yang sangat menguasai aspek metodologi atau teknik statistik yang digunakan, namun lemah dari sisi penguasaan terhadap topik skrispsi yang dikaji. Kedua, dosen pembimbing yang sangat menguasai topik skripsi yang dikaji, namun lemah dari segi tool analysis atau teknik statistik yang digunakan.

Untuk dosen tipe kedua jenis pertama, nampaknya Si Mahasiswa harus bekerja keras sekaligus memiliki kebebasan lebih dalam hal topik yang dikaji. Sebaliknya, untuk dosen tipe kedua jenis kedua, Si Mahasiswa mesti bekerja keras sekaligus memiliki kebebasan dalam hal metodologi. Namun, jangan khawatir. Dengan bertanya kepada dosen atau teman yang lebih tahu, kedua persoalan di atas akan mudah diselesaikan. Saya kira, mahasiswa yang mendapatkan dosen pembimbing tipe ini juga harus bersyukur. Meskipun, memang tidak sebagus dosen pembimbing tipe pertama. Bukankah dengan bersyukur Tuhan akan menambah nikmatNya kepada kita

Tipe Ketiga: Dosen Pembimbing yang Sama Sekali Tidak Ideal
Mahasiswa yang dibimbing oleh dosen tipe ini boleh dibilang kurang beruntung bila dibandingkan dengan mahasiswa yang dibimbing oleh dosen tipe pertama dan kedua. Namun demikian, ini relatif, tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Saya katakan kurang beruntung karena mahasiswa yang dimbing oleh dosen tipe ini pastinya harus benar-benar bekerja keras, baik dari segi metodologi maupun topik skrispi yang dikaji. 

Nampaknya, satu-satunya manfaat yang dapat kita peroleh dari dosen pembimbing seperti ini adalah jaminan bahwa jumlah tanda tangan pada kartu kendali bimbingan memasuki level aman sehingga memungkinkan kita untuk mengikuti seminar dan sidang skripsi. Tak menjadi soal seperti apa bentuk skripsi yang kita hasilkan. 

Meskipun demikian, mahasiswa yang mendapatkan dosen pembimbing tipe ini juga harus tetap bersyukur kerena di balik segala sesuatu yang ditetapkan olehNya atas diri kita tentu selalu ada hikmahnya. Termasuk ketika kita diuji dengan musibah berupa dosen pembimbing yang tidak ideal. 

Terlepas dari kekurangan dosen tipe ini dari segi penguasaan metodologi dan topik yang dikaji, mahasiswa yang dibimbingnya akan sangat beruntung jika Sang Dosen adalah pribadi yang murah hati dan murah senyum, selalu mempermudah bukan mempersulit, selalu memotivasi dan membimbing dengan nasehat-nasehatnya, senantiasa berbagi pengalaman tentang hidup dan dunia kerja yang sebenarnya jauh lebih berharga dari skrispi yang kita susun, bahkan ilmu statistik yang kita miliki–kalau ada.

Pada akhirnya, apapun tipe dosen pembimbing kita, berhasil tidaknya kita dalam penyusunan skripsi akan berpulang pada diri kita sendiri. Dosen pembimbing pada dasarnya hanya mengarahkan kita agar senantiasa on the track sesuai tujuan yang telah kita rumuskan di pendahuluan. Selebihnya, skrispsi yang kita susun adalah milik kita. Kitalah yang menentukan hasilnya bakal seperti apa. Saya yakin, dengan semangat dan kerja keras pantang menyerah, dengan mengerahkan segenap kemampuan terbaik yang kita miliki, apapun tipe dosen pembimbingnya, kita pasti akan menghasilkan skripsi yang terbaik.

Gambate Kudasai

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bisakah R2 (baca: R kuadrat) Bernilai Negatif?

Koefisien determinasi (R2) merupakan ukuran kecocokan hasil estimasi sebuah model regresi linier dengan data yang dimodelkan, atau biasa disebut ukuran goodness of fit dari sebuah model regresi linier. Dengan lain perkataan, R2 menunjukkan seberapa dekat garis regresi yang diestimasi dengan data yang sebenarnya atau seberapa besar proporsi variasi variabel respon yang dapat dijelaskan oleh garis regresi. Ukuran ini dapat digunakan jika semua asumsi terkait residual telah terpenuhi. Bisakah R2 Bernilai Negatif? Pada dasarnya, R2 tidak pernah bernilai negatif, kecuali model regresi yang digunakan tanpa intersep. Jika model regresi yang digunakan tanpa intersep, maka R2 tidak bermakna meskipun bernilai positif. Kelemahan mendasar dari  R2 adalah nilainya yang selalu bertambah ketika dilakukan penambahan variabel bebas ke dalam model, meskipun variabel tersebut tidak begitu penting dalam menjelaskan variabel respon (tidak signifikan). Untuk mengatasi hal ini digunakan R

Kesalahan Spesifikasi Model: Penyebab dan Solusi

Dalam ekonometrika, ketika kita bekerja dengan model-model struktural, yakni model dimana hubungan antara variabel dalam model didasarkan pada suatu kerangka teori ekonomi, keselahan spesifikasi model kerap kali terjadi. Hal ini merupakan masalah serius yang sering terjadi pada penelitian yang menggunakan model ekonometrik, khususnya regresi, sebagai  alat analisis. Kesalahan spesifikasi menyebabkan model yang dihasilkan tidak dapat digunakan untuk kepentingan analisis karena dapat menyesatkan ( misleading ). Sedikitnya,  ada dua gejala yang dapat dijadikan acuan untuk mengetahui kalau model yang kita gunakan mengalami kesalahan spesifikasi. Dua gejala tersebut adalah sebagai berikut: 1.   Hasil running model menunjukkan tanda koefisien regresi yang merepresentasikan arah hubungan antara variabel  penjelas dan variabel respon berseberangan atau tidak sesuai dengan teori.  Meski tidak selalu merupakan gejala terjadinya kesalahan spesifikasi, kehadiran gejala ini me

Di Balik Penurunan Jumlah Petani Gurem

Hingga kini, kemiskinan di Indonesia masih menjadi fenomena sektor pertanian. Secara faktual, sebagian besar penduduk miskin tinggal di desa dan bekerja sebagai petani dan buruh tani. Ditengarai, salah satu penyebab kemiskinan masih berpusat di sektor pertanian adalah penguasaan lahan pertanian oleh petani yang kian sempit. Skala usaha yang kecil mengakibatkan pendapatan dari kegiatan usaha tani tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup meski kegiatan usaha tani yang dijalankan sebetulnya cukup menguntungkan. Alhasil, kesejahteraan pun begitu sulit direngkuh. Kemarin (2 Desember), Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis jumlah petani gurem hasil Sensus Pertanian tahun 2013 (disingkat ST2013). Menurut BPS, petani gurem didefinisikan sebagai rumah tangga pertanian yang mengusahakan lahan pertanian kurang dari setengah hektar. BPS mencatat, jumlah petani gurem pada Mei 2013 sebanyak 14,25 juta rumah tangga atau sekitar 55,33 persen dari sekitar 26 juta rumah tangga