Langsung ke konten utama

Kepala BPS Pertama

Tahukah Anda siapa kepala Badan Pusat Statistik (BPS) yang pertama? Dia adalah Sarbini Sumawinata. Mungkin karena kebanyakan piknik, meski sudah bekerja di BPS tak kurang dari lima tahun lamanya, saya baru tahu jawaban dari pertanyaan itu beberapa waktu yang lalu, ketika membaca buku Rizal Mallarangeng berjudul Mendobrak Sentralisme Ekonomi Indonesia 1986-1992.
Ketika Orde Lama runtuh, Sukarno mewariskan kondisi ekonomi yang karut-marut. Betapa tidak, ketika ia lengser, Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita hanya US$300, inflasi mencapai tiga digit, dan utang negara terus meroket. Karena itu, masa awal Orde Baru di bawah kepemimpinan Suharto merupakan periode sulit. 
Pemulihan kondisi ekonomi nasional merupakan fokus utama.
Kala itu, ada sekolompok ekonom yang memainkan peran yang sangat penting dalam menentukan arah pembangunan ekonomi nasional. Mereka kerap disebut “Mafia Berkeley”. Meski faktanya, sebagain besar mereka merupakan jebolan Universitas Berkeley, Amerika Serikat, sebutan itu sebetulnya lebih melekat pada haluan ekonomi yang mereka anut: liberalisasi ekonomi.
Di bawah komando Prof. Widjojo Nitisastro, Mafia Barkeley berhasil mengubah haluan ekonomi nasional 180 derajat, dari yang semula sosialis di masa Orde Lama menjadi pro-pasar dan kapitalis. Arus liberalisasi ekonomi kian dahsyat, ketika mereka yang semula hanya bermain di belakang layar sebagai tim penasehat ekonomi Pak Harto, menduduki sejumlah jabatan penting di kabinet.
Dominasi negara dalam perekonomian mulai dipreteli dengan sejumlah deregulasi. Tujuannya jelas: mendorong bekerjanya mekanisme pasar. Pintu investasi asing dibuka selebar-selebarnya. Tidak membikin heran jika saat itu perekonomian nasional didominasi oleh pemodal asing dan keterunan Cina. Sementara itu, pengusaha pribumi kian terpinggirkan karena kalah bersaing.
Didorong oleh semangat nasionalisme dan kekhawatiran bahwa arah pembangunan nasional telah melenceng jauh dari cita-cita pembangunan nasional yang digariskan oleh para pendiri bangsa, di haluan yang berbeda, sejumlah tokoh angkat suara. Mereka yang umumnya cenderung sosialis melayangkan kritik yang pedas dan bertubi-tubi terhadap kebijakan ekonomi Orde Baru kala itu.
Kritik mereka disampaikan dengan cara yang cerdas, khas kaum cerdik pandai: tulisan. Mereka mengkritik Mafia Berkeley melalui kolom opini yang dimuat di berbagai koran terkemuka saat itu, seperti Indonesia Raya, Pedoman, dan Merdeka. Menurut mereka, liberalisasi ekonomi yang dilakukan pemerintah Orde Baru sudah kebablasan dan harus direm.
Perang gagasan yang dilancarkan melalui media massa tersebut ternyata sangat efektif. Artikel-artikel kritis yang ditulis oleh sejumlah tokoh terkemuka kala itu ternyata sangat ampuh dalam mengipasi semangat penolakan, khususnya di kalangan mahasiswa, terhadap sistem ekonomi yang pro-pasar dan kapitalis.
Puncaknya adalah peristawa Malapetaka Limabelas Januari (Malari) pada 1974 yang menjadi titik balik perubahan arah kabijakan pembangunan ekonomi nasional menjadi lebih pro kepada investasi dalam negeri dan proteksionis. Gelombang protes terhadap dominasi modal asing tersebut berujung kerusuhan masal yang melumpuhkan Jakarta selama dua hari. Tak kurang 1.000 mobil, sebagian besar buatan Jepang, dibakar di jalan-jalan Ibu Kota.
Inilih yang diulas Rizal Mallarangeng dalam bukunya. Peran gagasan dan pemikirnya dalam memengaruhi arah pembangunan ekonomi nasional pada masa Orde Baru.
Terus apa kaitannya tulisan yang panjang lebar ini dengan Kepala BPS yang pertama?
Menurut Rizal, dari sekian banyak tokoh yang meramaikan perang gagasan kala itu, ada empat tokoh yang sangat menonjol dan berpengaruh dalam mengkritisi pilihan kebijakan ekonomi Orde Baru kala itu. Mereka adalah Mohammad Hatta, Soedjatmoko, Sarbini Sumawinata, dan Mochtar Lubis.
Masih menurut Rizal, dari keempat tokoh tersebut, Sarbini merupakan yang paling mahir berbicara secara teknis dan menguasai kosakata yang khas dalam disiplin ilmu ekonomi. Ia merupakan tokoh yang paling berhak menyandang “gelar” sebagai the development economist, ekonom pembangunan.
Sarbini belajar ekonomi di negeri Belanda di bawah bimbingan Prof. Tinbergen. Anda yang belajar ilmu ekonomi tentu pernah mendengar nama itu. Dia adalah ilmuwan Belanda pertama yang meraih Hadiah Nobel di bidang ekonomi pada 1969. Setelah menamatkan pendidikan di negeri Belanda, Sarbini kemudian melanjutkan pendidikan ke Universitas Harvard untuk meraih gelar master di bidang ekonomi.
Sarbini merupakan Kepala Biro Pusat Statistik—sebutan lawas untuk Badan Pusat Statistik—yang pertama dan menjabat selama sepuluh tahun, dari 1955 hingga 1965. Membaca ulasan Rizal tentang sepak terjangnya membuat saya bangga. Perstatistikan negeri ini ternyata dibangun oleh tangan-tangan istimewa. Mereka bukan orang sembarangan. (*)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bisakah R2 (baca: R kuadrat) Bernilai Negatif?

Koefisien determinasi (R2) merupakan ukuran kecocokan hasil estimasi sebuah model regresi linier dengan data yang dimodelkan, atau biasa disebut ukuran goodness of fit dari sebuah model regresi linier. Dengan lain perkataan, R2 menunjukkan seberapa dekat garis regresi yang diestimasi dengan data yang sebenarnya atau seberapa besar proporsi variasi variabel respon yang dapat dijelaskan oleh garis regresi. Ukuran ini dapat digunakan jika semua asumsi terkait residual telah terpenuhi. Bisakah R2 Bernilai Negatif? Pada dasarnya, R2 tidak pernah bernilai negatif, kecuali model regresi yang digunakan tanpa intersep. Jika model regresi yang digunakan tanpa intersep, maka R2 tidak bermakna meskipun bernilai positif. Kelemahan mendasar dari  R2 adalah nilainya yang selalu bertambah ketika dilakukan penambahan variabel bebas ke dalam model, meskipun variabel tersebut tidak begitu penting dalam menjelaskan variabel respon (tidak signifikan). Untuk mengatasi hal ini digunakan R

Kesalahan Spesifikasi Model: Penyebab dan Solusi

Dalam ekonometrika, ketika kita bekerja dengan model-model struktural, yakni model dimana hubungan antara variabel dalam model didasarkan pada suatu kerangka teori ekonomi, keselahan spesifikasi model kerap kali terjadi. Hal ini merupakan masalah serius yang sering terjadi pada penelitian yang menggunakan model ekonometrik, khususnya regresi, sebagai  alat analisis. Kesalahan spesifikasi menyebabkan model yang dihasilkan tidak dapat digunakan untuk kepentingan analisis karena dapat menyesatkan ( misleading ). Sedikitnya,  ada dua gejala yang dapat dijadikan acuan untuk mengetahui kalau model yang kita gunakan mengalami kesalahan spesifikasi. Dua gejala tersebut adalah sebagai berikut: 1.   Hasil running model menunjukkan tanda koefisien regresi yang merepresentasikan arah hubungan antara variabel  penjelas dan variabel respon berseberangan atau tidak sesuai dengan teori.  Meski tidak selalu merupakan gejala terjadinya kesalahan spesifikasi, kehadiran gejala ini me

Di Balik Penurunan Jumlah Petani Gurem

Hingga kini, kemiskinan di Indonesia masih menjadi fenomena sektor pertanian. Secara faktual, sebagian besar penduduk miskin tinggal di desa dan bekerja sebagai petani dan buruh tani. Ditengarai, salah satu penyebab kemiskinan masih berpusat di sektor pertanian adalah penguasaan lahan pertanian oleh petani yang kian sempit. Skala usaha yang kecil mengakibatkan pendapatan dari kegiatan usaha tani tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup meski kegiatan usaha tani yang dijalankan sebetulnya cukup menguntungkan. Alhasil, kesejahteraan pun begitu sulit direngkuh. Kemarin (2 Desember), Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis jumlah petani gurem hasil Sensus Pertanian tahun 2013 (disingkat ST2013). Menurut BPS, petani gurem didefinisikan sebagai rumah tangga pertanian yang mengusahakan lahan pertanian kurang dari setengah hektar. BPS mencatat, jumlah petani gurem pada Mei 2013 sebanyak 14,25 juta rumah tangga atau sekitar 55,33 persen dari sekitar 26 juta rumah tangga