Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2012

Sulitnya Mengumpulkan Data

Dalam briefing Asosiasi Perusahaan Pertanian dalam rangka pemutakhiran direktori perusahaan pertanian oleh BPS di Jakarta, April lalu (11/4), seorang profesor yang juga pakar ekonomi pertanian kondang mengisahkan sepotong cerita tentang peliknya kegiatan pengumpulan data di lapangan dalam presentasinya. Syahdan, suatu ketika sang profesor menugasi mahasiswanya mengumpulkan data tentang harga beras di sebuah pasar di Pontianak, Kalimantan Barat. Maka, bergerilyalah para mahasiswa yang selama ini terbiasa duduk manis di ruang perkuliahan yang nyaman nan sejuk menyusuri lorong-lorong pasar, mencari pedagang beras yang hendak dijadikan responden. Dalam pada itu, sampailah seorang mahasiswa di sebuah kios yang dipenuhi karung-karung beras berbagai merek. Hatinya yang girang bukan kepalang karena berhasil menemukan responden tergambar jelas dari wajahnya yang berseri-seri. Tugas tak lama lagi bakal tuntas, begitu pikirnya. Tanpa berpanjang kata sang mahasiswa segera

Email Sakti

Suatu ketika, dalam sebuah obrolan di sebuah situs jejaring sosial (chatting), seorang kawan menumpahkan keluh kesahnya kepada saya. Dia curhat soal ketidakjelasan hasil ujian penyetaraan golongannya. Beberapa bulan sebelumnya, kawan yang masuk Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan berbekal ijazah SMA itu berhasil dinyatakan lulus dalam ujian penyetaraan golongan. Artinya, dengan itu i jazah S1-nya akan diakui sebagai tiket merengkuh golongan kepangkatan yang lebih tinggi dalam karirnya sebagai seorang PNS. Bayangkan, ia yang semula golongan IIa bakal segera lompat ke IIIa. Tentu sebuah lompatan yang sangat luar biasa karena normalnya dibutuhkan waktu sekitar 16 tahun untuk naik dari golongan IIa ke IIIa. Perbaikan kesejahteraan plus harga diri dalam waktu singkatpun segera terbayang di depan mata. Dia seharusnya gembira dengan itu semua. Tapi, justru perkara itulah yang menjadi sumber keluh kesahnya kala itu. Dari kantor provinsi dia mendapat kabar bahwa penyetaraa

Kuli Data

Darmanto adalah seorang puritan. Seorang yang lurus, menjadikan hidupnya tak terlalu berwarna laksana tonil (sandiwara), tak ada klimaks, datar-datar saja. Empat tahun di Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) dilaluinya dengan biasa saja. Seperti jamaknya mahasiswa STIS lainnya, hampir semua waktunya habis tercurah untuk kuliah: belajar, belajar, dan belajar, menekuni statisti ka yang pelik itu. Di sisa waktunya, pemuda asal Pasuruan, Jawa Timur, itu juga aktif di organisasi kemahasiswaan. Rohani Islam (ROHIS) menjadi pilihannya. Sangat cocok dengan pribadinya yang saleh, lurus, dan teguh pendiriaan. Sebetulnya, nyaris tak ada yang menarik untuk dikisahkan dari hidup Darmanto yang datar-datar saja itu, kecuali benturan antara idealisme yang begitu kokoh dipegangnya dengan realitas yang dihadapinya kala menceburkan diri ke lingkungan birokrasi, bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Badan Pusat Statistik (BPS). Saat kuliah, Darmanto hanya mengenal dua warna: hitam dan p

Kala Membuang Sampah Dianggap Zalim

Saya selalu terkagum-kagum ketika membaca tulisan Junanto Herdiawan, seorang pejabat di Bank Indonesia yang juga blogger di Kompasiana. Beliau memang selalu memikat dalam setiap tulisannya. Yang selalu menarik buat saya adalah saat Junanto mengisahkan habitus orang Jepang yang patut untuk ditiru dan diteladani. Semuanya terangkum dalam bukunya yang baru bertajuk “Shocking Japan”. Sebagaimana dituliskan Pepih Nugraha di situsnya ( http://pepih.com/ ), buku tersebut konon bercerita tentang kejutan budaya yang dialami Junanto selama tinggal di Jepang. Salah satu pemicu munculnya kejutan tersebut tentu saja adalah benturan antara kebiasaan yang telah membudaya di masyarakat Indonesia dengan apa yang ia jumpai pada masyarakat Jepang. Di antara sisi menarik habitus orang Jepang yang membuat Junanto terkejut, dan ini bisa kita jumpai dalam tulisannya, adalah soal kedisiplinan mereka dalam menjaga kebersihan dan mengelola sampah. Dikisahkan oleh Junanto bahwa orang Jepang d

Shocking is Random

Hari itu, persis di belakangku, seorang peserta rapat berbicara dengan lantangnya. Dia mengomentari tampilan slide bahan ajar pelatihan Pencacahan Lengkap Sensus Pertanian 2013 yang menurutnya kurang pas. Mana ada ikan tuna yang melayang-layang di atas sawah, mana ada pula laut persis di atas gunung. Kurang lebih demikian ketidaksetujuan yang hendak ia sampaikan hari itu. Alhasil, layout yang telah dibuat dengan susah payah oleh seorang kawan itu pun disarankan untuk dirubah. Sungguh rapat yang membosankan. Membahas seni dengan takaran logika. Bukankah mendefenisikan kata indah dan menarik dengan timbangan logika adalah bentuk pemasungan terhadap kreativitas. Ibarat seorang pelukis yang diminta membuat sebuah lukisan colorfull dengan hanya dua pilihan warna: hitam dan putih. Di tengah rapat yang membosankan itu, telepon genggam (HP) saya berdering. Kutengok layar HP yang sedang menyala, ada panggilan masuk dari sebuah nomor yang tak kukenal. Karena dihinggapi rasa p

Bukan Surveyor Kedai Kopi

Sebelum memulai tulisan ini, saya ingin mengucapkan selamat hari Statistik Dunia. Suatu tempo, seorang blogger pernah menuliskan komenter pedasnya di sebuah situs pewarta warga (Kompasiana) tentang petugas pengumpul data BPS yang dianggapnya sebagai “surveyor kedai kopi”.Emosi saya tersulut dan hati saya terluka bak tertusuk sembilu kala membaca komentar pedas tersebut. Apa sebabnya? Bahwa ada sebagian petugas BPS yang mengarang data di atas meja memang adalah fakta yang tak bisa ditampik. Tapi, mereka ibarat setetes air di tengah luasnya samudera pengabdian, mereka hanya segelintir di tengah ribuan petugas BPS lain, yang jujur dan penuh integritas. Sedikit yang tahu bahwa deretan digit-digit angka statistik yang tersua di ruang publik selama ini sebetulnya merupakan hasil kerja yang sangat melelahkan, betul-betul menguras tenaga dan pikiran ( very exhausted ). Ada banyak cerita tentang pengabdian tak kenal lelah dan ketulusan untuk memberikan sesuatu ya

Jalan Terjal Surplus 10 Juta Ton Beras

Suka atau tidak, produksi beras nasional hingga kini masih menjadi indikator keberhasilan pemerintah. Karenanya, di semua rezim yang berkuasa di negeri ini, surplus dan swasembada adalah dua kata yang harus terwujud kala kita berbicara tentang produksi beras nasional.  Pemerintahan SBY sendiri punya target ambisius terkait produksi beras nasional, yakni surplus 10 juta ton beras di tahun 2014. Sesuatu yang sebetulnya tidak mudah di tengah berbagai persoalan pelik yang sedang membelit sektor pertanian tanaman pangan kita. Faktual, saat ini sawah-sawah kita sudah lelah dan tak lagi subur. Produktivitas tanaman padipun terus melandai. Dalam sepuluh tahun terakhir, misalnya, secara rata-rata peningkatan produktivitas hanya sebesar 1,28 persen per tahun. Persoalan tidak hanya berhenti sampai di situ, masih banyak persoalan lain yang juga siap menghadang upaya pemerintah mewujudkan mimpi surplus 10 juta ton beras di tahun 2014, misalnya, laju konversi lahan sawah ke penggunaan

Angka Kemiskinan BPS yang Menggemaskan

Statistik kemiskinan yang dirilis pemerintah di ruang publik kerap menuai polemik, silang sengkurat, dan mengundang kontroversi. Angka kemiskinan versi pemerintah memang selalu menggemaskan. Badan Pusat Statistik (BPS), lembaga resmi pemerintah yang selama ini diamanahi tugas untuk menghitung angka kemiskinan, acapkali dituduh berbohong terkait angka kemiskinan yang dirilisnya. Statistik kemiskinan telah dipolitisasi dan dimanipulasi, diramu sedemikian rupa untuk menyenang-nyenangkan penguasa. Demikian, sejumlah hujatan terhadap BPS yang kerap tersua di pelbagai media. Alhasil, di tengah kepercayaan publik terhadap statistik kemiskinan resmi yang telah menyentuh titik nadir, pemerintah pun mengalami hambatan untuk meyakinkan publik terkait keberhasilannya dalam upaya penanggulangan kemiskinan. Padahal, telah luar biasa usaha ( effort ) yang dikerahkan pemerintah untuk itu. Anggaran yang telah digelontorkan pun bukan main banyaknya, nyaris menyentuh 100 triliu

Menulis untuk Keabadian

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian” (Pramoedya Ananta Toer). Tak terasa 30 September lagi, dan kali ini merupakan ulangan yang ke 47. Ingatan kita tentu bakal kembali tertuju pada apa yang terjadi 47 tahun silam. Tentang potret suram nan kelam perjalanan panjang sejarah negeri ini, tentang bagaimana darah anak negeri tumpah hanya untuk kemenangan sebuah idiologi: komunis. Terlepas dari segala kontroversi sejarah di balik apa yang terjadi kala itu, peristiwa–yang lebih dikenal dengan G30S PKI–tersebut telah memakan begitu banyak korban. Tidak hanya para jenderal yang disiksa dan dibunuh secara tragis oleh para anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) kemudian ditanam di sebuah sumur tua di Desa Lubang Buaya, tetapi juga ribuan orang tak bersalah yang dituduh terlibat atau bersangkutpaut dengan peristiwa yang telah menodai keagungan Pancasila tersebut. M

Novel “Ibuk” yang Menginspirasi

Kisah-kisah luar biasa dan menginspirasi dalam melakoni peliknya perjuangan hidup selalu kita dapati pada orang-orang biasa lagi sederhana. Mereka mungkin bapak dan ibu kita, saudara-saudara kita, atau mungkin juga diri kita sendiri. Coba bayangkan apa jadinya jika seorang gadis muda berumur 17 tahun, tak tamat SD pula, memutuskan menikah dengan seorang supir angkot berumur 23 tahun, yang riwayat pendidikannya kandas di bangku SMP. Ditambah lagi keduanya berasal dari keluarga pas-pasan, keduanya bahkan yatim-piatu. Tentu hanya ada satu kalimat yang bakal terlintas dalam benak kita tentang kehidupan dua sejoli ini kelak: hidup mereka bakal sulit. Dan memang seperti itulah apa yang terjadi kemudian. Kesulitan hidup kian menjadi kala dari pernikahan yang dilandasi cinta yang tulus nan suci itu lahir lima orang anak. Hari demi hari, beban keluarga muda itu kian berat. Anak-anak terus tumbuh, kebutuhan hidup pun terus meningkat. Tapi apakah di tengah himpitan beban keb