Langsung ke konten utama

Cinta Itu Buta (1)


“Kesuksesan bukanlah sesuatu yang diwariskan, dia adalah sesuatu yang diusahakan. Buah dari kerja keras tak kenal lelah”

Saya punya seorang kawan yang begitu terobsesi dengan film India. Saking terobsesinya kawan yang satu ini, dia mengubah namanya menjadi Rahul, tokoh yang dilakonkan aktor kawakan Bollywood Sahrukh Khan dalam sebuah film drama percintaan berjudul Kuch Kuch Hota Hai.

Sebetulnya, secara gestur wajah, nama ini kurang representatif untuk kawan yang memiliki rambut ikal dan hidung mekar seperti jambu air itu. Satu-satunya kesesuain fisik  antara dirinya dan Sahrukh Khan adalah badannya yang tinggi menjulang sekitar 180 an sentimeter. Selebihnya, dia terlalu hancur untuk menyandang nama Rahul yang tampan itu.

Kendati tak pantas, kawan yang satu ini tetap pede menyandang nama Rahul. Diolok-olok sekalipun, dia—yang IQ-nya sedikit jongkok itu—tak ambil pusing. Baginya, antara dia dan Rahul tetap saja bagaikan pinang dibelah dua. Dan karena merasa diri mirip Rahul itulah kawan yang satu ini menjadi suka bersiul kalau berjalan, dengan siulan yang sedikit dipaksakan dan membuat orang yang mendengarnya ingin muntah.

Saya dan kawannya yang lain—yang lebih waras tentunya—sudah bersusah payah menyadarkannya, mencoba menyembuhkannya dari peyakit akut merasa diri mirip Rahul itu, sampai-sampai suatu ketika kami pernah membawa poster Sakrukh Khan dan sebuah kaca cermin ke hadapannya. Tetapi, tetap saja itu tak berguna, dia yang terlahir dengen kecerdasan di bawah rata-rata itu, tetap kekeh dengan pendirian kelirunya, bahwa dia mirip Rahul.

Nama asli kawan yang satu ini sebenarnya adalah Ramadhan. Mungkin karena lahir di Bulan Ramadhan maka orang tuanya memberinya nama itu. Selain dipanggil Rahul, dia yang memiliki tubuh kekar dan tinggi menjulang, juga kerap disapa dengan panggilan La Gajah. Nama ini adalah hadiah dari guru SD-nya saat kelas satu, karena berkali-kali tidak naik kelas yang menjadikan ukuran tubuhnya menjadi jauh lebih besar seperti gajah dibanding teman-teman sekelasnya, yang tidak lagi sebaya dengannya.

Bosan berkali-kali tidak naik kelas, La Gajah yang saat jam pelajaran suka kabur dari kelas untuk menonton film India yang diputar di TPI setiap pukul 10 pagi WITA itu, memutuskan untuk mengakhiri riwayat pendidikannya hanya sampai kelas satu sekolah dasar. Yang dengan itu menjadikan dia tidak bisa baca tulis, dan hanya hafal nama-nama aktor India seperi Govinda, Amitha Bachan, Sri Devi, dan Tuan Takur ketimbang nama-nama pahlawan nasional yang gambarnya digantung di dinding kelasnya.

Setahu saya, dia hanya hafal satu nama pahlawan nasional, yakni Sultan Hasanuddin, yang menurut dia bertampang sangar dan menakutkan karena berkumis dan brewokan. Bagi dia, semua orang yang berkumis di dunia ini antagonis sebagaimana Tuan Takur Singh dalam film India yang kerap kali ditontonnya.

Hanya Ingin Menjadi Loper Koran
Meskipun terlahir dengan kecerdasan di bawah rata-rata, La Gajah amat rajin ke-masjid untuk shalat berjamaah. Hampir setiap habis Maghrib hingga menjelang Isya’ dia selalu menyempatkan diri bersama kami menuntut ilmu agama, mengkaji berbagai kitab, seperti Al Ushul Astsalasa Karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, Bulughul Maram (Bab Akhlaq) karya Iman Ibnu Hajar Al ‘Asqolani, Minhajul Qashidin Mukhtasar (ringkasan) Ihya Ulumuddin karya Imam Ibnu Qudamah, dan Riyadhus Shalihin karya Imam Annawawi salah satu iman mahdzab Syafi’iyyah terkemuka yang yang mati muda di usia tiga puluhan, dan tragisnya beliu yang sangat alim itu belum sempat menikah.

Dengan mengkaji kitab-kitab tersebut kami belajar berbagai hal tentang aqidah, ibadah, dan akhlak. Yang dengannya kami menjadi paham kalau percaya kepada dukun dan tukang ramal itu adalah kemusyrikan, shalat berjamaah itu lebih utama 27 derajat daripada shalat sendiri, bahwa makan dan minum itu harus dengan tangan kanan dan mengucap basmallah, menjawab salam adalah kewajiban, serta berbagai hal lain tentang persoalan agama.

Selain begitu terobsesi dengan tokoh Rahul, La Gajah yang tak muluk-muluk dalam bercita-cita itu juga amat terobsesi untuk menjadi seorang loper koran. Entah apa yang ada di batok kepalanya yang sedikit peang itu, dia begitu mendambakan profesi yang satu ini, sama seperti anak-anak lulusan SMA jurusan IPA yang begitu mendambakan profesi menjadi seorang dokter.

Di masjid, saat menunggu adzan isya’ tiba, dia selalu menyampaikan kepada kami perihal cita-citanya yang mulia itu, bahwa dia ingin menjadi seperti idolanya di dunia nyata, La Sintere, agen koran tunggul yang amat sukses di kampung kami. Semua rupa koran yang beredar di kampung kami, baik itu koran nasional maupun lokal, sudah dapat dipastikan berasal dari pemilik nama yang sedikit unik ini.

Mari kuceritakan kepadamu kawan perihal nama yang sedikit unik ini. Pada dekade 60 an, jauh sebelum kendaraan roda empat menjejaki kampung kami untuk kali pertama pada tahun 80 an, lampu senter adalah sebuah teknologi baru yang merambah desa-desa di kampung kami. Dan mereka yang selama hidupnya, hanya mengenal obor sebagai alat penerang jalan, begitu terkesima dan takjub dengan teknologi yang satu ini, termasuk orang tua satu-satunya agen koran di kampung kami sehingga menamainya La Sintere. Sintere adalah bahasa daerah untuk senter di kampung kami.

Selain La Sintere, masih banyak nama-nama lain di kampung kami yang unik dan lucu. Ada La Radio, La Fuji, La Senso, La Pemilu, La Inpres, La Pili Golkar, dan masih banyak lagi. Semua nama-nama itu punya sejarahnya masing-masing, seperti halnya nama La Sintere. Dan karena pemberian orang tua, nama-nama itu harus diterima dengan senang dan lapang hati, meskipun kelak sang anak akan sedikit malu dengan kelucuan yang ada pada namanya itu.

Sebagai kawan, kami amat mendukung keinginan kuat La Gajah untuk menjadi seorang loper koran. Cuma satu masalahnya, dia yang hanya mengeyem pendidikan kelas satu SD itu tidak bisa baca tulis, modal penting bagi seorang penjaja barang yang menjadi konsumsi orang-orang yang  gemar membaca itu. Satu-satunya modal yang dia miliki untuk menjadi seorang pedagang, selain semangat yang membara, adalah kemampuan mengenali nominal dan meghitung uang.

Karenanya, hampir setiap malam sehabis pengajian kami mengajarinya baca tulis. Meskipun cukup sulit membuat kawan yang drop out di kelas satu  SD ini bisa membaca, dengan kerja kerasnya dalam waktu kurang dari sebulan dia mencapai sedikit kemajuan. Setidaknya, dia tidak lagi membaca kata baygon dengan obat nyamuk, bisa mengenal huruf adalah kemajua luar biasa baginya dalam kurun waktu satu bulan.

Tidak bisa baca tulis nyatanya tidak membuat semangat La Gajah untuk menjadi seorang loper koran surut. Kendala ini disiasatinya dengan cara meminta tolang kepada kami kawan-kawannya yang bisa membaca untuk memberitahu berita apa saja yang menjadi Headline di halaman pertama Koran Kendari Post yang akan dijualnya. Berbekal informasi itu,dia  menjelajahi gang-gang dan lorong-lorang kampung, meneriakkan kalimat yang hingga kini selalu diucapkannya saat mengantarkan koran, ”­berita hangat-berita hangat “  diikuti penyebutan semua judul berita yang menjadi headline  pada halaman pertama.

Kesuksesan bukanlah sesuatu yang diwariskan, dia adalah sesuatu yang diusahakan. Buah dari kerja keras tak kenal lelah. Dalam hidup ini, kesuksesan bukan melulu milik orang-orang yang berpendidikan tinggi. Dan La Gajah telah membuktikan akan hal itu. Kerja kerasnya menjadi loper koran sejak enam tahun yang lalu kini berbuah manis. Kalau dulu dia mengantar koran dengan berjalan kaki, sekarang dia sudah punya sepeda motor. Dia pun sudah lancar baca tulis. Kalau dulu dia hanyalah anak buah La Sintere, kini dia adalah seorang boss yang  memiliki beberapa orang anak buah, bahkan kini dia telah menjadi pesaing berat La Sintere sebagai agen koran di kampung kami. Dalam hal pasar koran, kini keduanya adalah oligopolis dengan market share yang berimbang........(bersambung)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bisakah R2 (baca: R kuadrat) Bernilai Negatif?

Koefisien determinasi (R2) merupakan ukuran kecocokan hasil estimasi sebuah model regresi linier dengan data yang dimodelkan, atau biasa disebut ukuran goodness of fit dari sebuah model regresi linier. Dengan lain perkataan, R2 menunjukkan seberapa dekat garis regresi yang diestimasi dengan data yang sebenarnya atau seberapa besar proporsi variasi variabel respon yang dapat dijelaskan oleh garis regresi. Ukuran ini dapat digunakan jika semua asumsi terkait residual telah terpenuhi. Bisakah R2 Bernilai Negatif? Pada dasarnya, R2 tidak pernah bernilai negatif, kecuali model regresi yang digunakan tanpa intersep. Jika model regresi yang digunakan tanpa intersep, maka R2 tidak bermakna meskipun bernilai positif. Kelemahan mendasar dari  R2 adalah nilainya yang selalu bertambah ketika dilakukan penambahan variabel bebas ke dalam model, meskipun variabel tersebut tidak begitu penting dalam menjelaskan variabel respon (tidak signifikan). Untuk mengatasi hal ini digunakan R

Kesalahan Spesifikasi Model: Penyebab dan Solusi

Dalam ekonometrika, ketika kita bekerja dengan model-model struktural, yakni model dimana hubungan antara variabel dalam model didasarkan pada suatu kerangka teori ekonomi, keselahan spesifikasi model kerap kali terjadi. Hal ini merupakan masalah serius yang sering terjadi pada penelitian yang menggunakan model ekonometrik, khususnya regresi, sebagai  alat analisis. Kesalahan spesifikasi menyebabkan model yang dihasilkan tidak dapat digunakan untuk kepentingan analisis karena dapat menyesatkan ( misleading ). Sedikitnya,  ada dua gejala yang dapat dijadikan acuan untuk mengetahui kalau model yang kita gunakan mengalami kesalahan spesifikasi. Dua gejala tersebut adalah sebagai berikut: 1.   Hasil running model menunjukkan tanda koefisien regresi yang merepresentasikan arah hubungan antara variabel  penjelas dan variabel respon berseberangan atau tidak sesuai dengan teori.  Meski tidak selalu merupakan gejala terjadinya kesalahan spesifikasi, kehadiran gejala ini me

Di Balik Penurunan Jumlah Petani Gurem

Hingga kini, kemiskinan di Indonesia masih menjadi fenomena sektor pertanian. Secara faktual, sebagian besar penduduk miskin tinggal di desa dan bekerja sebagai petani dan buruh tani. Ditengarai, salah satu penyebab kemiskinan masih berpusat di sektor pertanian adalah penguasaan lahan pertanian oleh petani yang kian sempit. Skala usaha yang kecil mengakibatkan pendapatan dari kegiatan usaha tani tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup meski kegiatan usaha tani yang dijalankan sebetulnya cukup menguntungkan. Alhasil, kesejahteraan pun begitu sulit direngkuh. Kemarin (2 Desember), Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis jumlah petani gurem hasil Sensus Pertanian tahun 2013 (disingkat ST2013). Menurut BPS, petani gurem didefinisikan sebagai rumah tangga pertanian yang mengusahakan lahan pertanian kurang dari setengah hektar. BPS mencatat, jumlah petani gurem pada Mei 2013 sebanyak 14,25 juta rumah tangga atau sekitar 55,33 persen dari sekitar 26 juta rumah tangga