Langsung ke konten utama

Postingan

Makna Kata: Statistika dan Statistik, Apa Bedanya?

Ada sebuah kelucuan pagi ini, yang menurut saya menarik untuk dibagi. Di  busway  pagi tadi, seorang penumpang di samping saya sedang asyik membaca sebuah koran olahraga. Saya yang sesekali mengintip apa yang sedang dibacanya itu seketika tertawa, saat melihat sebuah tabel yang terletak di pinggir kanan halaman yang sedang dibacanya. Tabel itu memuat informasi mengenai klasemen sementara sebuah kompetisi lokal yang konon kabarnya tidak diakui lagi eksistensinya oleh FIFA. Hal yang membuat saya tertawa bukan nasib kompetisi yang kini mirip liga antar kampung itu, tetapi  header  tabel yang memuat kata "STATISTIKA". Melihat kata itu, ingatan saya kembali tertuju pada pengalaman seorang mahasiswa jurusan Statistika Institut Pertanian Bogor (IPB) di atas KRL ekonomi─tentu saja pengalaman ini tidak terjadi di atas gerbong─yang sedang ditumpanginya. Di atas kereta, dalam perjalanan menuju Kampus Darmaga, dia ditanya oleh seorang lelaki paruh baya perihal di ju...

(Yang Tak Terungkap) di Balik Angka Kemiskinan

Untuk pertama kalinya sejak tahun 1984, pada tahun 2011 lalu Badan Pusat Statistik (BPS) dua kali menghitung jumlah penduduk miskin dalam satu tahun. Sebelumnya, penghitungan jumlah penduduk miskin hanya dilakukan BPS pada bulan Februari/Maret. Dan sejak tahun 2011, selain pada bulan Maret penghitungan jumlah penduduk miskin juga dilakukan pada bulan September. Hasil penghitungan jumlah penduduk miskin pada September 2011 baru saja dirilis tiga hari yang lalu (2/1). Dalam rilis tersebut BPS menyebutkan, jumlah penduduk miskin Indonesia pada September 2011 diperkirakan sebanyak 29,89 juta orang  atau sekitar 12,36 persen dari total populasi. Jika dibandingkan dengan kondisi Maret 2011 di mana jumlah penduduk miskin kala itu diperkirakan mencapai 30,02 juta orang (12,49 persen), itu artinya telah terjadi penurunan jumlah penduduk miskin sebanyak 130 ribu orang atau 0,13 persen selama periode Maret-September 2011. Mengecewakan Saya kira, ini adalah sebuah hasil yang m...

Ketegasan Hatta

Nyaris saban hari dalam perjalanan pergi-pulang kantor, sambil gelantungan di atas busway   yang kian hari kian tak nyaman itu, ketika melewati Jalan Kramat Raya 106 saya selalu melempar pandang   pada sebuah gedung mungil nan sederhana. Di depan gedung itu, terdapat sebuah plank warna putih bertuliskan ‘Museum Sumpah Pemuda’. Yang karena itu sering juga disebut sebagai Gedung Pemuda. Karena plank yang sederhana itulah, saya ─ seorang perantau dari daerah ─jadi tahu bahwa di gedung itu ‘Sumpah Pemuda’, tonggak awal bersatunya negeri ini dalam bingkai ‘Indonesia’, diikrarkan. Bahwa di gedung sederhana itulah lagu ‘Indonesia Raya’─yang kerap membuat saya merinding ketika mendengarnya─untuk pertamakalinya oleh kreator dan komposernya Wage Rudolf (WR) Supratman diperdengarkan. Bahwa digedung mungil itu pulalah pernah tinggal tokoh-tokoh pemuda sekaliber Muhammad Yamin dan Amir Syarifuddin. Peringatan Hari Sumpah Pemuda memang telah lama berlalu. Dan satu-satunya ingata...

Ada Kemiripan Antara Dahlan Iskan dan Jusuf Kalla

Saya mengenal sosok Dahlan Iskan (DIS) untuk pertama kalinya sekitar empat tahun yang lalu, dari sebuah tulisan di halaman pertama koran lokal di kampung saya yang terafiliasi dengan Group Jawa Pos. Tulisan itu mengisahkan pengalaman dan perjuangan Pak DIS jatuh bangun sebagai seorang wartawan, membesarkan Jawa Pos hingga menjadi Group Jawa Pos seperti sekarang ini, serta usaha kerasnya berjuang melawan kanker hati yang dideritanya selama puluhan tahun hingga menjalani operasi transplantasi hati di “Negara Tirai Bambu”. Tulisan berseri itu menurut saya sangat menarik,penuh inspirasi ,dan tentu saja memotivasi. Dan saat itu juga saya langsung jatuh hati pada mantan Dirut PLN yang kini tengah naik daun sebagai Menteri BUMN itu. Lewat seri tulisannya itu Pak DIS memberi sebuah palajaran berharga buat saya bahwa yang namanya kesuksesan bukanlah sesuatu yang diwariskan, dia diusahakan. Buah dari kerja keras tak kenal lelah. Dari seri tulisan itu juga saya jadi tahu bahwa pria ...

Kami Bukan Tukang Bohong

“Terlepas dari segala keterbatasannya sebagai pendekatan kuantitatif, Statistik adalah  knowledge  yang didasarkan pada rasionalitas ilmiah —punya metodologi, yang dengannya orang menjadi tercerahkan di tengah keterbatasannya dalam memahami realitas populasi.” Menarik ketika membaca sebuah tulisan bertajuk “Mengungkap ‘Ilusi’ Data Kemiskinan BPS” yang  di- posting  di Kompasiana hari itu. Data kemiskinan BPS memang telah lama diributkan oleh banyak pihak di berbagai media, jauh sebelum tulisan yang satu itu di- posting . Dan dari dulu, soal yang dipermasalahkan selalu sama, yakni akurasinya, kesesuaiannya dengan realitas yang sesungguhnya di lapangan. Bahkan, tidak sedikit mereka yang ragu dengan data kemiskinan BPS dengan seenak hatinya, tidak sungkan-sungkan, menuduh BPS telah berbohong perihal data tersebut, merekayasa angka—dengan menetapkan garis kemiskinan yang rendah, misalnya—agar angka kemiskinan yang dihasilkan sesuai dengan target yang telah ...

HIV/AIDS: Akibat Itunya Dipakai Sembarangan

Beberapa waktu yang lalu, Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) Tifatul Sembiring pernah menjadi perbincangan hangat di situs mikroblogging Twitter terkait sujumlah kicauannnya soal HIV/AIDS. Salah satu kicauannnya yang dinggap kontroversial adalah ketika mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang getol memberengus situs-situs berbau pornografi itu menyebut kepanjangan AIDS dengan ‘Akibat Itunya Dipakai Sembarangan’. ‘Kata Prof Sujudi, mantan menteri kesehatan, agar mudah diingat, singkatannya adalah AIDS = Akibat Itunya Dipakai Sembarangan’ . Begitu tulis Tifatul melalui akun twitternya @tifsembiring.  Tanggapan beragam pun datang dari para twitter mania atas kicauan menteri yang dinobatkan sebagai salah satu politisi paling tenar di jagad maya versi  Fame Coun  itu. Sebagian mereka menganggap, Tifatul tidak bijak terkait kicauannya tersebut, apalagi dia adalah seorang pejabat negara. Kicauannya dianggap merendahkan para pen...

Islam KTP

Hasil sensus penduduk  yang  dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) bulan lalu mengungkap fakta bahwa dari 237,6 juta penduduk Indonesia pada Mei 2010, 236,7 juta (99,6 persen) diantaranya menyatakan diri mereka beragama. Hanya sebanyak 896,7  ribu penduduk (0,4 persen)  yang gagal teridentifikasi status keagamaannya, baik karena tidak terjawab maupun tidak ditanyakan saat sensus. Sebanyak  207,2 juta (87,1 persen) penduduk Indonesia mengaku memeluk agama Islam, Kristen Protestan 16,5 juta (6,96 persen),  Katolik  6,9 juta (2,91 persen), Hindu  4 juta (1,69) persen), Budha 1,7 juta (0,72 persen),  Khong Hu Chu 117,09 ribu (0,05 persen), lainnya 299,6 ribu (0,13 persen), dan tidak teridentifikasi   896,7 ribu (0,4 persen). Fakta di atas semakin meneguhkan keberadaaan Indonesia sebagai negara beragama atau negara berketuhanan sebagaimana telah dinyatakan pada sila pertama Pancasila dan dalam Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) pa...