Langsung ke konten utama

Postingan

BPS, Alat Pencitraan Pemerintah?

Sebagai badan yang diamanahi tugas untuk merekam jejak sejarah pembangunan bangsa dengan data, Badan Pusat Statistik (BPS) secara konsiten menyediakan  data-data strategis  seperti data mengenai inflasi, pertumbuhan ekonomi, ekspor-impor, ketenagakerjaan, industri, produksi tanaman pangan, dan kemiskinan. Data-data ini amat penting sebagai pijakan dalam proses pengambilan keputusan terkait arah pembangunan bangsa. BPS menyadari, data-data strategis yang dihasilkannya merupakan  guidance  yang menentukan arah pembangunan bangsa. Karenanya, menghasilkan data statistik yang berkualitas adalah suatu kaharusan bagi BPS. Statistik yang tidak berkualitas−akurat−hanya akan memberikan infromasi yang keliru dan meyesatkan bagi para pengguna data, khususnya para pengkaji kebijakan dan pegambil keputusan di negeri ini. Untuk itu, dengan segala keterbatasan dan kekurangan yang ada, BPS berupaya semaksimal mungkin menyajikan data statistik yang berkualitas sebagai karya ter...

Mana yang Lebih Banyak, Penduduk Laki-laki Atau Perempuan?

“Penduduk Indonesia lebih banyak perempuan daripada laki-laki”. Anda mungkin termasuk orang yang setuju dengan statement ini. Apalagi kalau Anda adalah orang yang ketika pergi dan pulang kantor menggunakan Transjakarta, saya yakin sangat setuju. Pasalnya, pemandangan di dalam Transjakarta memang demikian, jumlah penumpang perempuan selalu lebih banyak dari laki-laki. Apakah fakta keseharian yang Anda alami saat pergi dan pulang kantor dengan Transjakarta bisa dijadikan alasan untuk menyimpulkan bahwa penduduk Indonesia lebih banyak perempuan dibanding laki-laki? Jawabannya tentu tidak. Mengapa tidak? Untuk menarik kesimpulan tentang populasi─komposisi penduduk Indonesia menurut jenis kelamin─penarikan kesimpulan secara parsial, yakni berdasarkan kondisi di kanan kiri kita yang dianggap sebagai gambaran populasi kerap kali menyesatkan. Karenanya, dibutuhkan data statistik yang diperoleh melalui suatu metodologi yang dirancang sedemikian rupa untuk mewakili dan mengg...

Apakah Garis Kemiskinan BPS Perlu Direvisi?

Hari ini, Minggu (10/9/2011) pukul 13.47 WIB, KOMPAS.com menurunkan berita mengenai usulan untuk merevisi garis kemiskinan (GK) yang selama ini digunakan oleh Pemerintah−Badan Pusat Statistik (BPS)-dalam menghitung jumlah orang miskin di Indonesia. Selangkapnya, berita tersebut dapat Anda baca pada tautan berikut Garis Kemiskinan Harus Direvisi Dalam berita tersebut dinyatakan bahwa Komisi XI DPR akan mengarahkan pemerintah agar mengubah GK yang saat ini ditetapkan setara dengan penghasilan Rp 230.000 per orang dalam sebulan. GK yang ada saat ini dinggap salah kaprah karena mengabaikan mereka yang memiliki penghasilan sedikit di atas Rp 230.000 per bulan atau Rp 9.000 ribu perhari, padahal seorang pengemis saja sekarang ini bisa mengumpulkan lebih dari Rp 10.000 ribu per hari−kenyataannya memang banyak pengemis yang kaya, mereka pura-pura miskin dengan menjadi pengemis. Lebih lanjut dalam berita tersebut dinyatakan Komisi XI DPR akan mendorong pemerintah untuk memas...

Pemberitaan KOMPAS.com “ADB: Penduduk Miskin Indonesia Bertambah” Keliru

“Data (yang benar) mencerdaskan bangsa.”  (Motto: Badan Pusat Statistik) Pada Kamis (25/08/2011), KOMPAS.Com memberitakan laporan yang dirilis oleh  Asian Development Bank  (ADB) tentang perkembangan kondisi kemiskinan Indonesia saat ini yang lebih buruk dibanding lima tahun lalu. Selengkapnya, isi berita yang dimaksud dapat Anda baca pada tautan berikut  ADB: Penduduk Miskin Indonesia Bertambah . Terlepas berita ini bersumber dari kantor berita AFP, menurut saya ada dua hal yang janggal dan perlu dikoreksi. **** Defenisi dan metode pengukuran kemiskinan Sebelum membahas kejanggalan yang saya maksudkan, sangat penting bagi kita memahami terlebih dahulu defenisi kemiskinan dan bagaimana angka-angka kemiskinan itu diperoleh. Secara umum, kemiskinan didefinisikan sebagai kondisi saat seseorang atau sekelompok orang tak mampu memenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Defenisi ini menjukkan makna kemisk...

BPS-Badan Pura-pura Statistik?

Berdasarkan Undang-Undang Statistiik No.16 Tahun 1997, Badan Pusat Statistik (BPS) menjadi satu-satunya lembaga yang diberi tanggung jawab oleh negara untuk menyelenggarkan kegiatan statistik dasar, yakni statistik yang pemanfaatannya ditujukan untuk keperluan yang bersifat luas, baik bagi pemerintah maupun masyarakat luas, yang memiliki ciri-ciri lintas sektoral, berskala nasional, dan makro.  Statistik dasar diselenggarakan oleh BPS melalui berbagai sensus dan survei. Sensus dilakukan dengan mencacah semua unit populasi di seluruh wilayah Republik Indonesia untuk memperoleh karakteristik populasi pada saat tertentu. Contoh kegiatan sensus yang dilakukan oleh BPS adalah Sensus Penduduk, Sensus Pertanian, dan Sensus Ekonomi. Adapun survei dilakukan dengan mencacah sampel untuk memperkirakan karakteristik populasi . Contoh kegiatan survei yang secara rutin dilakukan oleh BPS adalah Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS), Survei Angkatan Kerja Nasion...

Jumlah Si Miskin

Kecuk Suhariyanto  Sejumlah tokoh lintas agama membuat pernyataan terbuka. Mereka menyebut pemerintah telah berbohong. Tidak tanggung-tanggung kebohongan itu. Jumlahnya delapan belas, terdiri dari sembilan kebohongan lama dan sembilan kebohongan baru. Demikian tersua di pelbagai media. Karena pernyataan terbuka ini merupakan seruan moral tokoh lintas agama yang tak punya kepentingan politik praktis, gaungnya ke mana-mana. Pemerintah berusaha membela diri, tetapi membikin situasi justru lebih buruk. Pemerintah dinilai kurang arif dan tak mau menerima masukan konstruktif. Salah satu kebohongan lama yang disebutkan adalah perihal penyampaian angka kemiskinan. Pemerintah dituduh berbohong karena menyatakan jumlah penduduk miskin 2010 adalah 31,02 juta jiwa, padahal data penduduk yang layak menerima beras miskin 70 juta jiwa. Pertanyaannya, mengapa sampai ada dua angka kemiskinan yang jauh berbeda, padahal keduanya sama-sama berasal dari Badan Pusat Statistik (BPS). ...

Selamat Jalan Sahabat dari Medan, Terima Kasih Atas Gelar Profesornya (Lanjutan)

Bagudung Bagi sebagian orang, sebuah pressure tak ubahnya bagaikan doping yang menggerakkan mereka untuk mengerahkan segala potensi dan kemampuan yang dimiliki sehingga terkadang bisa melakukan sesuatu melebihi batas kemampuan mereka. Seseorang bisa menjadi pelari hebat dan pemanjat ulung ketika dikejar anjing. Apalagi, jika yang mengejarnya adalah seekor anjing yang tengah mengidap penyakit gila alias anjing gila. Dalam situasi seperti ini, rekor nasional pun sepertinya bakal terpecahkan. Dan rasa takut akan sakitnya gigitan anjing serta ancaman penyakit rabies adalah dopingnya. Pada tahun pertama di STIS, ancaman drop out (DO) karena nilai-nilai yang sama sekali jauh dari membanggakan adalah doping yang membuat kami, para anggota Einstan Community , tiba-tiba mendadak berubah menjadi mahasiswa yang gila belajar─spertinya kepala BPS bakal bangga jika melihat betapa meluap-luapnya semangat belajar kami saat itu. Bayang-bayang bakal DO di tahun pertama telah membangkitkan rasa...